Studi Temukan Pola Asuh Keras Bisa Pengaruhi Otak Anak

Daftar Isi

1. Anak bisa terdampak secara emosi dan perilaku

2. Anak dan remaja lebih rentan depresi

3. Berpengaruh pada perkembangan otak

Jakarta, Mookie Design Indonesia

Banyak

orang tua

mungkin masih merasa bersikap tegas bahkan keras adalah cara paling ampuh agar

anak

jera dan tidak mengulang kesalahan. Apalagi jika tujuannya baik, ingin anak belajar dan tidak salah langkah lagi.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut cukup berdampak pada anak.

Pola asuh

keras seperti membentak, mengancam, atau merendahkan bukan cuma berpengaruh sesaat, tapi juga bisa berdampak pada kesehatan mental anak, bahkan hingga perkembangan otaknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Anak bisa terdampak secara emosi dan perilaku

Sebuah studi yang sifatnya observasi dalam

Journal of Youth and

Adolescence

yang melibatkan 1.137 keluarga mengikuti perkembangan anak sejak usia sekitar 7-11 tahun.

Hasilnya menunjukkan, anak yang sering terpapar tindakan kasar psikologis dari orang tua seperti membentak, mempermalukan, atau merendahkan cenderung mengalami lebih banyak masalah, baik secara emosional maupun perilaku.

Masalah ini muncul dalam dua bentuk:

Internalizing

, seperti cemas, murung, dan menarik diri

Externalizing

: seperti marah, melawan, atau perilaku agresif

Artinya, dampak dari kebiasaan ini tak cuma bikin anak jadi sedih, tapi juga bisa dilihat dari cara anak bersikap ke lingkungan sekitar.

Penelitian ini juga menekankan bahwa yang berpengaruh adalah pola yang berulang, bukan sekadar sekali-dua kali orang tua kehilangan emosi.

Paparan yang terus terjadi dari masa kecil hingga menjelang remaja bisa memberi efek yang menumpuk pada perkembangan anak.

2. Anak dan remaja lebih rentan depresi

Dampak ini juga terlihat saat anak beranjak remaja, jurnal dari

Scientific Reports

yang melibatkan lebih dari 5 ribu remaja menemukan bahwa pola asuh keras berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi.Yang menarik, peneliti juga menemukan bagaimana proses itu terjadi.

Setidaknya, ada dua jalur utama. Di antaranya adalah

rumination

, di mana remaja cenderung terus memikirkan hal-hal negatif. Lalu ada

victimization

, di mana remaja lebih rentang mengalami perlakuan buruk dari teman sebaya.

Dalam jangka panjang, pengalaman ini bisa membentuk cara pandang anak terhadap dirinya sendiri. Mereka lebih mudah merasa tidak berharga, cemas, hingga kehilangan harapan.

Dengan kata lain, dampaknya bukan hanya soal takut dimarahi, tapi bisa masuk ke identitas diri

3. Berpengaruh pada perkembangan otak

Dampak pola asuh keras ternyata juga terlihat pada sisi biologis. Penelitian yang sifatnya observasi dalam jurnal

Biological Psychiatry: Cognitive Neuroscience and

Neuroimaging

menganalisis perkembangan otak 246 anak melalui data MRI pada usia 8-13 tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa pola asuh keras dan tidak konsisten berkaitan dengan perubahan pada struktur otak, termasuk penurunan luas permukaan di area tertentu, serta perubahan pola penipisan korteks otak.

Area yang terdampak ini berhubungan dengan fungsi sosial, emosi, dan sensorimotor. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman pengasuhan tidak hanya memengaruhi perasaan, tapi juga berpotensi memengaruhi bagaimana otak berkembang.

Temuan-temuan ini bukan berarti orang tua tidak boleh tegas. Disiplin tetap penting dalam pengasuhan. Namun, pendekatan yang terlalu keras, terutama jika dilakukan berulang, justru bisa membawa dampak jangka panjang yang tidak diinginkan.

(anm/asr)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: CFD di Sudirman-Thamrin Jakarta Ditiadakan 31 Mei

Baca lagi: Polisi Tangkap Host Live Konten Porno di Media Sosial

Baca lagi: Daftar Aplikasi yang Harus Dihapus Ketika Memori HP Penuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: