Pohon Mahoni Purba Berusia 1,2 Abad di Jaksel, Jadi Saksi Bisu Sejarah

Jakarta, Mookie Design Indonesia

Di balik kepungan gedung pencakar langit kawasan Rawajati, Pancoran,

Jakarta Selatan

, berdiri tegak sebatang pohon mahoni (

Swietenia mahagoni

) raksasa yang menolak menyerah pada zaman.

Berusia lebih dari 1,2 abad, pohon ini bukan sekadar saksi bisu sejarah kolonial, melainkan “paru-paru” alami yang masih setia menyaring pekatnya polusi ibu kota.

Melansir

Detik

, Endang Teguh Pramono, atau yang akrab disapa Pampam, pemandu dari Walking Tour Step Into Jakarta, mengungkapkan bahwa mahoni ini telah ada jauh sebelum pabrik-pabrik berdiri di kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pohon ini menjadi saksi transisi industri kereta api nasional, mulai dari era

Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij

(NISM) hingga diambil alih oleh

Staatsspoorwegen

(SS) pada tahun 1913.

“Usianya diperkirakan sudah 120 tahun. Ini benar-benar peninggalan dari awal peradaban di sini,” ujar Pampam saat memandu tur, Rabu (1/4).

Pohon Mahoni diĀ Jaksel ini memiliki lingkar batang sepanjang 7,7 meter, dengan tinggi 34 hingga 38 meter.

Meski usianya sudah senja, performa ekologis mahoni ini sangat luar biasa. Berdasarkan prasasti di lokasi, pohon ini mampu mereduksi polusi udara antara 47 persen hingga 69 persen.

Menariknya, daun-daun pada pohon ini sering terlihat menghitam. Hal tersebut bukan tanpa alasan; warna hitam itu merupakan bukti nyata penyerapan timbal dan polutan berbahaya dari udara Jakarta yang dilakukan secara terus-menerus.

Selain sebagai penyaring udara, pohon ini memiliki keunggulan lain seperti, memiliki sistem akar tunggang yang menghujam dalam ke tanah, sehingga tidak merusak fondasi gedung atau trotoar di sekitarnya.

Lokasi pohon yang berdekatan dengan bank sampah membantu menetralisir aroma tidak sedap di kawasan apartemen. Mahoni juga berperan penting dalam menjaga ketersediaan air tanah di area pemukiman padat.

Keberadaan pohon yang masif ini tak lepas dari kepercayaan mistis warga. Pampam menceritakan bahwa sesekali ditemukan jejak persembahan di sekitar pohon, mulai dari dupa hingga sesajen yang diletakkan di celah-celah batang.

“Terkadang tempat ini dijadikan lokasi berdoa. Ada yang menaruh makanan atau dupa sebagai bentuk tradisi tertentu,” ungkapnya. Petugas kebersihan setempat pun rutin membersihkan area tersebut agar sisa-sisa persembahan tidak menumpuk.

Terlepas dari mitos yang menyelimutinya, mahoni purba ini adalah bukti nyata bahwa warisan alam bisa tetap lestari di tengah pesatnya pembangunan urban. Kehadirannya menjadi pengingat pentingnya ruang hijau sebagai pelindung kehidupan di megapolitan.

(wiw)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Mookie Design]

Baca lagi: Ini Kapal Induk Nuklir AS Rp100 T Lebih yang Dikirim ke Timteng

Baca lagi: Detik-detik Peluncuran Artemis II NASA, Bawa 4 Astronaut ke Bulan

Baca lagi: Asal-usul April Mop, Hari Saling Lempar ‘Prank’ yang Menghibur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: