‘Personal Color Analysis’ Berbasis AI, Kenapa Banyak Orang Tertarik?

Daftar Isi

Kenapa banyak orang semakin peduli?

1. Lebih praktis di era belanja online

2. Membantu mengurangi trial-and-error

3. Berkaitan dengan citra dan kepercayaan diri

Jakarta, Mookie Design Indonesia

Beberapa hari belakangan, topik

personal color analysis

kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Tanpa harus berkonsultasi dengan ahlinya, orang bisa mendapatkan analisis warna dengan bantuan AI. Kamu sudah pernah coba?

Kehadiran tes personal color berbasis AI membuat orang bisa mendapatkan hasil instan hanya dari unggahan foto. Hal ini pun membuat

personal color analysis

kembali jadi bahan obrolan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, tren ini sebenarnya bukan hal baru. Analisis warna untuk menentukan warna paling cocok sudah lama populer di dunia kecantikan dan fashion, bahkan sempat jadi tren beberapa tahun lalu.

Personal color analysis

adalah metode untuk mencari palet warna yang dianggap paling cocok dengan ciri alami seseorang. Penilaian ini biasanya melibatkan warna kulit, rambut, mata, undertone, hingga tingkat kontras wajah.

Tujuannya bukan sekadar soal estetika, tapi membantu wajah terlihat lebih segar, cerah, dan harmonis saat menggunakan warna tertentu.

Dalam

studi

Personal Colour between Perceptual Space and Social Practice

, personal color dijelaskan sebagai cara menemukan warna yang secara alami meningkatkan tampilan kulit sehingga terlihat lebih sehat dan jelas.

Dalam praktiknya,

personal color

sering dibagi ke dalam kategori musiman seperti

spring, summer, autumn,

dan

winter

. Kategori ini kemudian diturunkan lagi berdasarkan

warm

atau

cool undertone

, tingkat kecerahan, dan kontras.

Meski tidak sepenuhnya berbasis sains yang pasti, konsep personal color tetap punya dasar dalam persepsi visual.

Sejumlah eksperimen menunjukkan bahwa orang cenderung memilih warna tertentu untuk tipe kulit tertentu. Warna biru yang masuk dalam kelompok warna ‘dingin’, misal, lebih sering dianggap cocok untuk kulit terang, sementara warna ‘hangat’ seperti oranye atau merah cenderung dianggap lebih pas untuk kulit yang lebih gelap.

Kenapa banyak orang semakin peduli?

Kembalinya tren

personal color

tidak lepas dari beberapa perubahan gaya hidup, terutama di era digital.

1. Lebih praktis di era belanja online

Meningkatnya belanja online membuat orang tidak selalu bisa mencoba pakaian secara langsung. Personal color kemudian jadi semacam panduan agar tidak salah pilih warna.

2. Membantu mengurangi trial-and-error

Studi

yang diterbitkan di Journal of The Korean Society of Cosmetology, personal color dan perilaku membeli kosmetik menunjukkan bahwa analisis warna bisa memengaruhi keputusan pembelian. Banyak orang merasa lebih yakin saat memilih produk karena punya acuan yang jelas.

3. Berkaitan dengan citra dan kepercayaan diri

Riset juga menunjukkan bahwa personal color dapat membantu membangun citra diri yang lebih positif. Warna yang tepat bisa membuat seseorang terlihat lebih segar dan rapi, yang pada akhirnya berdampak pada rasa percaya diri.

Personal color bisa menjadi alat bantu yang berguna, terutama dalam memilih pakaian atau makeup akan tetapi bukan aturan mutlak yang harus diikuti.

Analisis warna seharusnya membantu memaksimalkan penampilan, bukan membatasi pilihan. Warna yang cocok tidak hanya ditentukan oleh teori, tapi juga oleh rasa nyaman dan kepercayaan diri seseorang saat memakainya.

(anm/els)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Mookie Design]

Baca lagi: Jay Idzes Dapat Trofi Man of The Match Serie A

Baca lagi: Dua Jemaah Haji Asal Pasuruan dan Gowa Wafat di Madinah

Baca lagi: Pratikno Asesmen Ulang Operasional Daycare Imbas Kasus Little Aresha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: