
Jakarta, Mookie Design Indonesia
—
Miliarder asal
AS
Bryan Johnson mengaku mengidap
autoimun
. Penyakit ini menyerang sistem pencernaannya.
Johnson sendiri dikenal sebagai seorang pengusaha teknologi AS yang punya obsesi memiliki umur panjang. Ia bahkan pernah terang-terangan berharap bisa hidup hingga tahun 2140.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obsesi itu bukan sekedar harapan kosong. Ia mengupayakannya dengan menghabiskan sekitar US$2,7 juta per tahun untuk perawatan memperpanjang umur.
Namun kini, ia dihadapi oleh sebuah diagnosis penyakit autoimun. Mengutip
Channel News Asia
, hasil pemeriksaan pada Mei lalu memperlihatkan bahwa Johnson mengidap penyakit gastritis autoimun (AIG).
Kabar soal miliarder autoimun itu disampaikan Johnson dalam sebuah unggahan Instagram yang merenungkan kesehatannya. Ia mengaku punya kebiasaan makan yang tidak sehat saat kecil. Ia rutin mengonsumsi sereal manis, minuman bersoda, dan melahap makanan cepat saji.
Setelah membangun bisnisnya, ia perlahan mengalami stres. Pada tahap itu, ia terjerumus ke dalam depresi kronis yang parah.
“Di suatu titik dalam rentang waktu itu, tubuh saya mulai mengembangkan proses autoimun yang memengaruhi tiroid dan kemudian lapisan lambung. Itu disebut AIG (gastritis autoimun),” tulis dia.
Menukil laman
Global Autoimune Institute
, gastritis autoimun adalah kondisi peradangan kronis pada lapisan lambung. Antibodi tubuh menyerang sel-sel sehat penghasil asam yang membentuk lapisan lambung.
Tak diketahui penyebab pasti penyebab gastritis autoimun. Namun, faktor genetik tampaknya mengambil peran khusus. Orang berusia lanjut, kelompok perempuan, dan memiliki riwayat keluarga dengan autoimun dapat meningkatkan risiko seseorang terkena gastritis autoimun.
Pada tahap awal, penyakit autoimun ini hanya menimbulkan keluhan pencernaan pada umumnya. Misalnya saja nyeri ulu hati, kembung, dan cepat merasa kenyang.
Tapi dalam kondisi lebih lanjut, seseorang dengan gastritis autoimun bisa mengalami kelelahan, sesak napas, perubahan sensosik, masalah keseimbangan, hingga kecemasan.
Diagnosis ini muncul saat dokter tengah memeriksa penyebab kekurangan zat besi yang terus dialami Johnson. Berbagai tes dan biopsi mengarah pada autoimun.
“Standar medis saat ini memperlakukan AIG sebagai sesuatu yang perlu dikelola, bukan disembuhkan. Kami ingin mengubah hal itu,” tulisnya.
Ia pun berambisi menggunakan teknologi untuk menemukan cara menyembuhkan penyakitnya. Salah satunya adalah merancang antibodi dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk menargetkan sel-sel kekebalan tersebut.
Namun, obsesinya kali ini mendapatkan tanggapan negatif dari pada dokter atau ahli kesehatan lainnya. Dokter spesialis imunologi Juston Janoskan berkomentar bahwa ambisi Johnson untuk terus sehat secara paripurna bisa memicu stres kronis.
“Pengejaran kesehatan sempurna yang tiada henti melalui pengujian dan biohacking yang terus-menerus berkontribusi pada stres kronis,” ujarnya.
Hanya saja, miliarder pengidap autoimun ini keukeuh. Ia berencana bakal terus mendokumentasikan setiap upayanya untuk menyembuhkan penyakit tersebut.
(asr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: FOTO: Lautan Pelayat Iringi Arak-arakan Peti Jenazah Ali Khamenei
Baca lagi: Vingroup dan Vinhomes Masuk Time Asia-Pacific’s Best Companies 2026
Baca lagi: DPRD Respons Usul DTKJ soal JakLingko Diberi Tarif Rp2000




6 Responses
Sebuah dinamika narasi yang sangat memikat; argumennya mengalir tanpa ada kesan pemaksaan ide https://www.crunchbase.com/organization/jaali-bean
Sebuah petualangan logika yang seru; penulis sukses membawa pembaca pada kesimpulan yang tak terduga https://www.lib.cet.ac.il/PAGES/sub.asp?item=5588&page=1&rel=1
Artikel ini menawarkan sintesis yang sangat jernih di tengah polarisasi pandangan yang terjadi pada sektor ini https://trustburn.com/reviews/jaalibean-com jadi sangat sesuai dengan kesukaan saya
Penjelasannya asik dan gampang dicerna. Kalau ada yang lagi nyari bahan perbandingan atau insight lain soal topik ini, link https://kldp.org/node/61681 ini juga sangat direkomendasikan.
Saya sangat menikmati tulisan ini karena langsung pada intinya. Tadi saya juga sempat membaca referensi lain di https://kldp.org/comment/253460 yang membahas hal serupa secara komprehensif.
Apresiasi saya untuk penulis karena telah menyajikan informasi yang sangat berharga. Saya turut melampirkan https://kldp.org/comment/352223 yang kebetulan memiliki muatan informasi sejenis untuk memperkaya literatur kita.