
Jakarta, Mookie Design Indonesia
—
Di tengah derasnya arus
fast fashion
dan dominasi pakaian siap pakai (ready-to-wear), keberadaan
bespoke
tailoring masih bertahan sebagai simbol kualitas, presisi, dan sentuhan personal yang sulit tergantikan.
Saat industri fesyen berlomba menghadirkan pakaian secara cepat dan massal, seni menjahit setelan khusus justru menawarkan sesuatu yang lebih intim, pakaian yang benar-benar dibuat untuk manusia, bukan sekadar pasar.
Berbeda dengan pakaian produksi massal, bespoke tailoring menghadirkan proses pembuatan busana dari nol sesuai bentuk tubuh, aktivitas, hingga karakter pemakainya. Di balik setiap jahitan, ada proses memahami proporsi tubuh, gaya hidup, dan kenyamanan seseorang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, tailoring bukan hanya soal membuat pakaian, tetapi juga menerjemahkan identitas personal ke dalam detail-detail yang presisi.
Nilai inilah yang membuat bespoke tailoring tetap memiliki tempat tersendiri di tengah industri fesyen modern yang serba cepat.
Di Indonesia, salah satu rumah tailoring yang masih menjaga tradisi tersebut adalah Wong Hang. Berdiri sejak 1933, bisnis keluarga ini menjadi contoh bagaimana warisan craftsmanship dapat bertahan lebih dari sembilan dekade di tengah perubahan tren dan perilaku konsumen.
Menurut Samuel Wongso, generasi keempat penerus Wong Hang, esensi seorang tailor bukan hanya membuat pakaian terlihat bagus, tetapi juga membantu seseorang tampil lebih proporsional dan percaya diri.
“Padahal ada sebuah art di balik bespoke tailoring itu. Tugas tailor itu apa? Memperbaiki. Jadi kalau orang gemuk harus terlihat lebih ramping dan yang kurus harus terlihat lebih berisi. Itulah esensi sebuah tailor, yang hampir hilang dan sempat diremehkan,” kata Samuel, mengutip
Antara
.
Pandangan tersebut lahir dari pengalaman panjang yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga Wong Hang. Selama puluhan tahun, mereka mempertahankan filosofi bahwa pakaian bukan sekadar penampilan, tetapi bentuk pelayanan personal yang memahami karakter setiap pelanggan.
Berawal dari Surabaya sebelum Indonesia merdeka
Perjalanan Wong Hang dimulai ketika keluarga pendirinya datang dari Guangzhou, China, ke Indonesia pada 1933. Saat itu, Surabaya menjadi salah satu pusat perdagangan penting yang dipenuhi masyarakat Eropa, Jepang, dan Tionghoa yang terbiasa mengenakan suit dalam keseharian.
Melihat kebutuhan tersebut, keluarga Wong Hang mulai membangun bisnis tailoring dengan pendekatan yang sangat personal. Mereka tidak hanya membuat pakaian, tetapi juga memperhatikan kenyamanan, fungsi, dan proporsi tubuh pelanggan.
Nilai tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga Wong Hang mampu bertahan lebih dari 90 tahun dan kini hadir di 16 titik di berbagai kota besar.
Samuel mengatakan, sejak kecil seluruh anggota keluarga sudah diperkenalkan pada dasar-dasar tailoring, mulai dari mengukur tubuh, membuat pola, menggunting kain, hingga memahami karakter bahan.
“Nenek saya selalu bilang, mau jadi apa pun boleh, tapi karena keluarga kami seorang tailor, minimal harus punya skill menjahit. Kata nenek, ke mana pun pergi, kalau punya meteran dan jarum, kita tetap bisa hidup,” ujarnya.
Baca kelanjutannya di sini..
Bertahan di tengah perubahan tren fesyen
Industri
tailoring
sempat mengalami perlambatan ketika tren
fesyen
bergeser ke gaya kasual dan oversized pada awal 2010-an. Saat itu, suit mulai dianggap terlalu formal dan identik dengan gaya lama.
Namun Wong Hang memilih tetap mempertahankan identitasnya melalui potongan jas klasik bergaya Eropa dan Inggris yang dianggap lebih timeless. Menurut Samuel, tren dapat berubah dalam hitungan tahun, tetapi pakaian dengan potongan presisi akan selalu relevan.
Karena itu, Wong Hang tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menekankan kualitas material dan teknik jahitan agar suit dapat digunakan dalam jangka panjang dan tetap bisa disesuaikan ketika bentuk tubuh pelanggan berubah.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui layanan lifetime guarantee untuk setiap suit yang dibuat. Pelanggan dapat melakukan penyesuaian ukuran secara gratis seumur hidup, baik ketika berat badan bertambah maupun berkurang.
Menurut Samuel, penyesuaian tersebut bahkan bisa dilakukan hingga sekitar delapan sentimeter ke atas atau ke bawah tanpa merusak bentuk asli pakaian.
“Layanan tersebut sebetulnya tidak mudah diterapkan karena membutuhkan kualitas bahan, teknik tailoring, dan pola jahitan yang presisi agar pakaian tetap dapat disesuaikan tanpa merusak bentuk aslinya,” kata Samuel.
Pendekatan personal itu membuat Wong Hang tetap dipercaya berbagai kalangan, mulai dari profesional, pengusaha, pejabat, hingga figur publik.
Di sisi lain, Wong Hang juga mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk lini bisnis pakaian jadi mereka, Wong Hang Bersaudara (WHB).
Teknologi tersebut memungkinkan pemindaian ukuran tubuh pelanggan secara otomatis yang kemudian langsung terintegrasi ke sistem pembuatan pola. Namun, Samuel menegaskan sentuhan personal tetap menjadi inti layanan bespoke Wong Hang.
Samuel menilai suit sempat mengalami masa ketika pakaian tersebut hanya dianggap cocok untuk pernikahan atau acara formal tertentu. Karena itu, ia memilih membangun pengaruh melalui gaya berpakaian sehari-hari dengan tetap mengenakan suit atau blazer dalam berbagai kesempatan.
Baginya, berpakaian rapi dan sesuai acara juga merupakan bentuk penghormatan kepada orang lain.
“Saya selalu pakai suit wherever I go, ke mana pun. Meeting juga pakai blazer. Waktu itu yang namanya tuxedo, itu belum common di Indonesia,” katanya.
Saat itu, mayoritas model suit yang populer masih bergaya Amerika dengan siluet longgar. Wong Hang justru konsisten membawa pendekatan tailoring bergaya Eropa yang lebih presisi dan mengikuti bentuk tubuh.
Meski sempat dianggap berbeda, pendekatan tersebut perlahan diterima dan memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suit dan bespoke tailoring.
Selain mempertahankan teknik craftsmanship, Wong Hang juga terus mengikuti perkembangan material kain premium dunia. Samuel menyebut Wong Hang menjadi official tailor di Indonesia untuk sejumlah merek kain internasional seperti Loro Piana, Ermenegildo Zegna, Cerruti, hingga Holland & Sherry.
Menurutnya, perkembangan teknologi kain menjadi salah satu pembeda utama antara suit tailoring dan pakaian produksi massal.
“Dari Cerruti waktu itu pertama kali, dia mengeluarkan suit yang waterproof. Jadi kain-kain yang seperti itu, itu adalah pembeda antara kita beli di mal dengan beli di tailor,” ujar Samuel.
Add
as a preferred
source on Google
Menjaga Seni Tailoring di Tengah Gempuran Fast Fashion
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Jemaah Haji RI Tersangkut Hukum karena Rekam Warga Saudi Tanpa Izin
Baca lagi: Syahri Gerindra Klaim Baru Sekali Ngegame-Merokok di Rapat DPRD Jember
Baca lagi: Menimbang Untung Rugi Jika Tarif Royalti Tambang Nikel Dkk Dinaikkan



