
Jakarta, Mookie Design Indonesia
—
Memutuskan pindah ke
luar negeri
bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan atau mengejar gaji yang lebih tinggi.
Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, mulai dari biaya hidup, transportasi, hingga persyaratan
visa
bagi mereka yang ingin bekerja atau menjadi
digital nomad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di luar berbagai faktor tersebut, ada satu hal yang sering kali menentukan apakah seseorang benar-benar betah tinggal di negara baru, yaitu soal kenyamanan dan seberapa diterimanya mereka para pendatang atau ekspatriat di kota tersebut.
Dikutip dari laman
CNTraveller
, perusahaan asuransi kesehatan internasional William Russell mengeluarkan daftar kota yang dinilai paling membahagiakan bagi ekspatriat pada 2026.
Studi ini membandingkan kota-kota di 38 negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) berdasarkan sejumlah indikator yang memengaruhi kualitas hidup pendatang.
Penilaian tersebut mencakup skor kebahagiaan dari
Happy City Index,
tingkat keamanan berdasarkan data Numbeo, serta tingkat keramahan masyarakat yang diukur melalui persentase kekhawatiran seseorang akan dihina atau diperlakukan tidak menyenangkan di ruang publik.
Selain itu, penelitian juga menggabungkan temuan dari World’s Best Cities Report 2026 yang disusun Resonance Consultancy, serta studi William Russell sebelumnya mengenai kota-kota paling ramah di dunia.
Hasilnya, Kopenhagen, Denmark, menempati posisi pertama sebagai kota yang paling membahagiakan bagi ekspatriat dengan skor 6.954. Kota ini dikenal memiliki kualitas hidup yang tinggi, layanan publik yang baik, serta lingkungan yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Meski demikian, dalam kategori kota paling ramah bagi pendatang, Zurich, Swiss, justru berada di posisi teratas berkat tingkat keamanan yang tinggi dan minimnya gesekan sosial.
Posisi kedua ditempati Tokyo, Jepang, dengan skor kebahagiaan 6.788. Kota ini memperoleh nilai tinggi di hampir seluruh aspek penilaian. Sementara itu, Munich, Jerman, berada di peringkat ketiga berkat kualitas ruang hijau, layanan publik, dan kualitas hidup yang konsisten.
Direktur William Russell, William Cooper, mengatakan banyak orang keliru menganggap bahwa negara-negara besar dan terkenal lantas otomatis menawarkan proses adaptasi yang mudah bagi ekspatriat.
“Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan ekspatriat adalah menganggap negara-negara populer menjamin proses adaptasi yang mudah. Kenyataannya, beberapa bulan pertama justru menjadi masa yang paling menantang, mulai dari memahami sistem layanan kesehatan hingga mendapatkan penghasilan yang stabil. Persiapan menghadapi tahap awal itu sering kali lebih penting daripada memilih destinasi itu sendiri.”
Kota paling membahagiakan untuk ditinggali
Berikut daftar kota terbaik di dunia untuk ditinggali menurut para ekspatriat pada 2026.
1. Kopenhagen, Denmark – 6.954
2. Tokyo, Jepang – 6.788
3. Munich, Jerman – 6.691
4. Zurich, Swiss – 6.683
5. Barcelona, Spanyol – 6.668
6. Oslo, Norwegia – 6.623
7. Singapura – 6.504
8. Paris, Prancis – 6.493
9. Seoul, Korea Selatan – 6.487
10. Stockholm, Swedia – 6.479
(fef)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Mookie Design]
Baca lagi: Bulog Usul Ganti Nama Beras SPHP Jadi Beras Kita, Harga Masih Sama?
Baca lagi: 5 Rekor Fenomenal Mbappe usai Prancis Hajar Maroko di Piala Dunia 2026
Baca lagi: Sinopsis 402 Rumah Sakit Angker Korea, Aksi Nekat Tim Pemburu Hantu




2 Responses
Pembahasannya sangat nyaman diikuti bahkan untuk pembaca yang baru mengenal topik ini. Saya juga melihat https://github.com/WorldBrain/Memex.
Artikel ini cukup inspiratif karena mampu menjelaskan banyak hal dengan bahasa sederhana. Saya juga sempat mampir ke [http://ftp.icm.edu.pl/packages/linux-documentation/pub/Linux/docs/ldp-archived/linuxfocus/Nederlands/January2001/article180.shtml](http://ftp.icm.edu.pl/packages/linux-documentation/pub/Linux/docs/ldp-archived/linuxfocus/Nederlands/January2001/article180.shtml).