Kreator Konten Disebut Ejek Kaum Disabilitas, Pahami Apa itu Ableism

Jakarta, Mookie Design Indonesia

Media sosial ramai membicarakan kreator konten yang mempromosikan produk sembari berpura-pura memiliki

disabilitas

. Netizen pun menuding tindakan itu sebagai ableisme atau

ableism

. Apa itu

ableism

?

Akun TikTok Xander (@violettaaxandrea) tengah ramai dibicarakan. Bukan karena kontennya yang menarik melainkan mengejek kaum disabilitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak sedikit pengguna akun media sosial melempar kritik bahkan mengecam Xander. Pasalnya, ia berpura-pura atau memparodikan kondisi kaum disabilitas ditambah hal itu dilakukan sembari mempromosikan produk kecantikan.

Belum lama ini, Xander menyampaikan permintaan maaf lewat sebuah unggahan. Dia menyebut tidak bermaksud menyinggung kaum disabilitas.

Apa itu

ableism

?

Meski demikian, netizen menyebut apa yang dilakukan Xander termasuk ableisme atau ableism. Apa itu?

Seperti dilansir dari laman

American Psycholoical Association

(APA), ableisme adalah prasangka dan diskriminasi yang ditujukan pada penyandang disabilitas, kemudian kerap disertai keinginan menyembuhkan dan membuat mereka normal.

Ableisme juga berarti mendefinisikan kaum disabilitas lebih rendah daripada kaum non-disabilitas.

Ableism

itu seperti apa?

Tanpa disadari, masyarakat sering berfokus pada orang dengan kemampuan umum dan mengalienasi orang dengan ketrampilan berbeda. Mengutip dari

WebMD

, karena hal tersebut, banyak aspek di kehidupan sebenarnya bersifat ableist meski tanpa niat melakukannya.

Contoh-contoh berikut bisa membuatmu memahami apa itu

ableism

.

1. Memisahkan siswa penyandang disabilitas ke sekolah berbeda.

2. Membatasi atau mengisolasi siswa penyandang disabilitas.

3. Desain bangunan kurang aksesibilitas misal, tidak ada jalur pengguna kursi roda atau braille pada rambu atau petunjuk arah.

4. Mengejek atau bercanda tentang disabilitas.

5. Aktor non-penyandang disabilitas memerankan karakter penyandang disabilitas dalam suatu pertunjukan.

6. Film atau teater yang tidak menyediakan transkripsi audio atau teks.

7. Menggunakan toilet yang diperuntukkan bagi kaum disabilitas padahal non-penyandang disabilitas.

8. Berbicara pada kaum disabilitas seolah mreka adalah anak kecil.

9. Melontarkan pertanyaan yang mengganggu tentang disabilitas.

10. Menganggap bahwa disabilitas harus terlihat agar dianggap nyata atau ada.

(els)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Mookie Design]

Baca lagi: KPop Demon Hunters Sukses Naik Satu Peringkat Netflix di Pekan ke-50

Baca lagi: Dokter Soroti Wanita Viral yang Nonton Konser F4 Saat Campak

Baca lagi: Rupiah Jebol Level Rp18.000 per Dolar AS Pagi Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: