
Jakarta, Mookie Design Indonesia
—
Bagi yang berniat mengunjungi Jepang, ada sejumlah kebiasaan dan etika yang sudah menjadi budaya masyarakat
Jepang
. Jadi selama di Jepang, turis asing juga perlu memperhatikan hal-hal tersebut.
Biar tidak culture shock atau kaget dengan kebiasaan tersebut, sebaiknya ketahui terlebih dulu apa saja etiket sehari-hari masyarakat di sana. Mengutip
BBC
, seorang jurnalis asal Jepang bernama Mizuki Uchiyama sudah membagikan apa saja kebiasaan yang dilakukan masyarakat Jepang.
Ini bisa menjadi panduan bagi pelancong yang ingin datang ke Jepang. Di Negeri Sakura itu, ada banyak aturan tidak tertulis yang kalau dilanggar bisa-bisa langsung mendapat tatapan aneh dari orang sekitar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, biar bisa menjadi turis asing yang menghargai budaya setempat di Negeri Sakura, simak 10 hal penting ini yang diungkap oleh Mizuki Uchiyama.
Cara Pakai Alat Makan
Jepang terkenal menggunakan sumpit sebagai alat makan. Bagi beberapa orang, khususnya asal Indonesia yang lebih menggunakan sendok dan garpu sebagai alat makan, mungkin cukup kesulitan menggunakan sumpit.
Di Jepang, cara menggunakan sumpit juga ada aturannya. Pertama, jangan menancapkan sumpit di nasi. Kedua, jangan memindahkan makanan dari sumpit yang satu ke sumpit lain. Dua hal ini dianggap tidak sopan dan ada kaitannya dengan ritual pemakaman.
Ketiga, jika sumpit sedang tidak digunakan, maka taruh sumpit di sandaran atau di atas mangkuk. Tambahan lainnya terkait penggunaan alat makan, biasakan mengangkat mangkuk saat makan dan jangan terlalu membungkuk untuk lebih dekat ke makanan.
Boleh Menyeruput Makanan
Tidak sabar makan ramen dan mie-mie lainnya di Jepang? Ternyata menyeruput mie di Jepang itu boleh-boleh saja. Hal ini wajar dilakukan ketika makan ramen dan udon.
Kebiasaan menyeruput mie sudah ada sejak zaman Edo. Jika mie dimakan dengan cara diseruput, diyakini rasa mie jadi semakin lezat karena kuah dan mienya lebih menyatu. Mie yang masuk mulut juga jadi tidak terlalu panas.
Kamus Masuk Restoran
Selama di Jepang, tidak perlu mahir berbahasa Jepang tetapi setidaknya bisa mengucapkan kosa-kata dasar. Salah satu tempat yang membutuhkan banyak kamus atau kosa-kata adalah ketika datang ke restoran untuk makan.
Ketika masuk ke restoran, kata-kata sederhana yang bisa membantu turis lain misalnya ”
sumimasen
” yang artinya “permisi”, diucapkan ketika ingin memanggil pelayan. Saat memesan makanan, bisa ucapkan ”
onegaishimasu
” yang artinya “mohon bantuannya”, jadi terdengar lebih sopan dan menghargai.
Sebelum menyantap makanan, bisa berseru ”
itadakimasu
” yang artinya “selamat makan” sebagai bentuk rasa syukur terhadap hidangan. Selesai makan, bisa menutupnya dengan ucapan ”
gochisousama
” yang menunjukkan rasa terima kasih terhadap makanan yang disajikan.
Tidak Perlu Memberi Uang Tip
Kalau di Indonesia kita terbiasa memberikan uang tip sebagai bentuk terima kasih, di Jepang jangan lakukan kebiasaan ini. Memberikan pelayanan terbaik sudah dianggap sebagai bagian dari pekerjaan, jadi kalau ada turis yang tiba-tiba memberi tip justru akan membuat pelayan merasa bingung.
Di Jepang, bentuk apresiasi ditunjukkan dengan sikap yang sopan, tidak dilihat dari uang. Selain itu jika ingin menunjukkan rasa menghargai kepada mereka yang telah bekerja, kamu bisa menunjukkannya dengan cara menghabiskan makanan dan pesan secukupnya.
Ada Sapaan yang Tidak Usah Dijawab
Pelancong mungkin akan keluar-masuk toko selama berlibur di jepang. Ketika masuk, suara yang lantang dan bersemangat akan menyambut pengunjung dengan seruan ”
irasshaimase
!” Yang artinya “selamat datang”.
Kalau mendengar sapaan ini, tidak perlu dijawab. Cukup membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman. Ini sudah menunjukkan kamu menghargai sambutan tersebut.
Jangan Bicara Terlalu Keras
Berkeliling Jepang menggunakan transportasi umum (transum) adalah pengalaman yang menyenangkan, karena di sana transumnya terkenal tepat waktu dan sangat nyaman. Tetapi jangan sampai kehadiran kamu justru membuat penumpang lain merasa tidak nyaman.
Transportasi umum di Jepang terkenal hening dan tenang. Oleh karena itu selama berada di dalam transum, sebaiknya jangan berbicara terlalu keras, tidak menelepon, dan menonaktifkan nada dering ponsel.
Bagaimana kalau harus menerima telepon? Demi menghormati kenyamanan penumpang lain, sebaiknya tunggu hingga di halte berikutnya dan turun untuk menerima telepon.
Jangan Makan di Transportasi Umum
Masih seputar transportasi umum, tapi yang satu ini sepertinya juga sudah menjadi kebiasaan di Indonesia. Selama berada di dalam transum, penumpang sebaiknya tidak makan atau minum karena hal ini kurang disukai oleh masyarakat di Jepang.
Namun aturan ini tidak berlaku jika naik kereta jarak jauh. Contohnya saat naik kereta Shinkansen, kamu akan melihat banyak penumpang yang menyantap bento selama perjalanan.
Jika ingin makan juga harus lihat-lihat tempat, misalnya makan di dekat restoran atau minimarket tempat membeli makanan atau di bangku taman yang lebih proper untuk makan. Perlu diingat, jangan makan dan minum sambil jalan atau berdiri.
Jangan Buang Sampah Sembarangan
Kebersihan sudah menjadi identitas Jepang, itulah mengapa selama menjadi turis juga perlu menjaga kebersihan. Meskipun jarang menemukan tempat sampah di Jepang, tetapi biasanya tempat sampah disediakan di toko, stasiun kereta, atau dekat mesin penjual otomatis.
Namun jika kamu memiliki sampah dan tidak melihat ada tong sampah, kamu bisa disimpan dulu di kantung maupun di tas kemudian membuangnya saat menemukan tempat sampah.
Masyarakat di Jepang terbiasa membawa sampah mereka pulang ke rumah, karena mereka sadar sampahnya adalah tanggung jawab mereka.
Etika Datang ke Onsen
Jepang juga terkenal akan onsen atau tempat pemandian air panas, banyak wisatawan yang ingin mencoba berendam di sana ketika berlibur ke Jepang. Meskipun cuma berendam, tetapi ada aturan yang perlu diperhatikan.
Pertama, sebelum masuk ke dalam kolam wajib membersihkan diri terlebih dahulu. Kedua, bagi yang memiliki rambut panjang dapat menguncirnya agar tetap rapi selama berendam.
Ketiga, jangan kaget karena biasanya pengunjung berendam tanpa busana. Keempat, jika pengunjung memiliki tato, sebaiknya perhatikan kebijakan yang ada. Beberapa onsen lebih membatasi pengunjung bertato karena tato sering dikaitkan dengan kelompok Yakuza.
Beda Wilayah, Beda Sisi Jalan
Jepang memiliki aturan tidak tertulis terkait penggunaan sisi jalan. Ketika naik eskalator di wilayah timur seperti Tokyo, dianjurkan berdiri di sisi kiri dan memberi jalan di sisi kanan. Sementara di wilayah Barat seperti Osaka justru kebalikannya, berdiri di kanan dan memberi jalan di sisi kiri.
Kalau masih bingung, jurus jitunya adalah ikuti saja bagaimana kebiasaan mayoritas orang yang berjalan di sana. Aturan-aturan tidak tertulis seperti ini mungkin membingungkan, tetapi dengan mencoba untuk ikut melakukannya selama di Jepang akan menunjukkan bahwa kamu turis yang menghargai kebiasaan setempat.
Add
as a preferred
source on Google
Aturan Tak Tertulis yang Perlu Diketahui Turis Saat Berada di Jepang
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Dovizioso Khawatirkan Kondisi Marc Marquez di Awal MotoGP 2026
Baca lagi: Daftar 10 Wakil Indonesia Lolos 16 Besar Badminton Asia Championships
Baca lagi: 4 Kapal Wisata Asing di Pantai Marina Disegel Bea Cukai



