Jepang Uji Obat Penumbuh Gigi Pertama di Dunia

Jakarta, Mookie Design Indonesia

Jepang

tengah mengembangkan

obat

yang disebut-sebut dapat membantu manusia menumbuhkan

gigi

baru secara alami.

Teknologi ini dikembangkan untuk pasien dengan

congenital tooth agenesis

, yakni kondisi bawaan lahir ketika seseorang tidak memiliki sebagian gigi permanen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbeda dari implan atau gigi palsu, terapi ini mencoba merangsang tubuh untuk menumbuhkan gigi baru secara alami.

Pengembangan obat tersebut kembali menjadi perhatian setelah sejumlah penelitian terbaru dari Jepang menunjukkan uji klinis regenerasi gigi pada manusia kini sedang berlangsung.

Mengutip

Science Direct

, penelitian yang dipublikasikan dalam

Journal of Oral Biosciences

2026 ini memantau uji klinis regenerasi gigi permanen menggunakan antibodi anti-USAG-1 atau TRG035.

Dalam studi tersebut, TRG035 dikembangkan sebagai terapi regenerasi gigi yang menargetkan langsung mekanisme biologis pembentukan gigi. Peneliti menggunakan teknologi MRI dan CT scan untuk memantau terbentuknya

tooth

germ

atau bakal calon gigi baru selama proses uji klinis berlangsung.

Sederhananya, terapi ini dirancang untuk ‘membangunkan’ bibit gigi yang sebelumnya tidak berkembang agar dapat tumbuh menjadi gigi baru.

Pengembangan obat penumbuh gigi ini sebenarnya telah diteliti dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya melalui studi

Development of a new antibody drug to treat congenital tooth agenesis

oleh Katsu Takahashi dan tim peneliti Jepang.

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menjelaskan terapi menggunakan antibodi anti-USAG-1 dikembangkan untuk merangsang pertumbuhan gigi baru secara alami.

USAG-1 merupakan protein yang diketahui berperan menghambat pertumbuhan gigi. Dengan menekan protein tersebut menggunakan antibodi khusus, peneliti berharap bibit gigi yang sebelumnya tidak berkembang dapat kembali aktif dan tumbuh menjadi gigi baru.

Penelitian ini terutama ditujukan bagi pasien dengan

congenital tooth agenesis

. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan mengunyah, berbicara, hingga rasa percaya diri karena seseorang lahir tanpa beberapa gigi permanen.

Pengembangan obat ini telah melewati tahap uji pada hewan sebelum akhirnya memasuki fase uji klinis pada manusia.Meski begitu, teknologi regenerasi gigi ini masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya sebelum dapat digunakan secara luas.

Jika berhasil, terapi ini berpotensi menjadi salah satu terobosan besar di dunia kedokteran gigi karena memungkinkan manusia menumbuhkan gigi baru tanpa prosedur implan.

(anm/asr)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: TAUD Serahkan Bukti 16 Orang di Kasus Air Keras Andrie Yunus ke Polda

Baca lagi: Cara Daftar Jogja Financial Festival 2026

Baca lagi: Kata-kata Trump Tanggapi Penembakan Massal di Masjid AS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: