Jarang Sikat Gigi Bisa Picu Alzheimer? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jakarta, Mookie Design Indonesia

Belakangan ini, kesehatan

mulut

ikut dikaitkan dengan risiko

Alzheimer

. Klaim ini dibahas di media sosial, bahkan ada yang menyebut infeksi gusi sebagai salah satu pemicu penyakit itu. Berikut penjelasan ilmiahnya.

Kebiasaan menyikat gigi sering dianggap urusan kecil yang efeknya hanya terasa di sekitar mulut. Paling-paling, orang baru lebih perhatian saat napas mulai tidak segar, gigi terasa ngilu, atau gusi mudah berdarah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian baru-baru ini muncul informasi bahwa infeksi gusi bisa memicu penyakit Alzheimer, suatu penyakit degeneratif yang menyerang otak.

Sekilas, hubungan antara gusi dan otak memang terdengar jauh. Bagaimana mungkin bakteri di mulut bisa berkaitan dengan kemampuan mengingat?

Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara bakteri di mulut dan penyakit Alzheimer.

Studi yang dipublikasikan di

Science Advances

menemukan bakteri

Porphyromonas gingivalis

, penyebab utama penyakit gusi, ada pada jaringan otak pasien Alzheimer. Enzim yang dihasilkan bakteri ini, yang disebut

gingipains

, juga ditemukan berkaitan dengan kerusakan otak.

Dalam penelitian yang sama, infeksi bakteri tersebut pada hewan percobaan dapat memicu perubahan di otak yang mirip Alzheimer, termasuk peningkatan protein

beta-amiloid

.

Temuan ini diperkuat studi lain di

Journal of Alzheimer’s Disease

yang menemukan jejak enzim tersebut pada sebagian besar sampel otak pasien Alzheimer yang diteliti. Hal ini menunjukkan, ada jalur biologis yang memungkinkan infeksi dari mulut ikut berperan dalam proses penyakit.

Bukan penyebab tunggal

Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa Alzheimer tidak bisa dijelaskan hanya dari satu faktor. Berbagai review ilmiah menyebut hubungan antara infeksi gusi dan Alzheimer masih dalam tahap penelitian, dan belum bisa disimpulkan sebagai penyebab utama.

Alzheimer adalah penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak hal, mulai dari faktor genetik, usia, peradangan kronis, hingga gaya hidup.

Salah satu faktor genetik yang paling dikenal adalah gen APOE, yang disebut dalam banyak penelitian sebagai penentu risiko terbesar pada Alzheimer sporadik. Artinya, infeksi gusi bisa jadi salah satu faktor yang berkontribusi, bukan satu-satunya penyebab.

Meski bukan penyebab utama, tapi kondisi gusi tetap tidak boleh diabaikan. Infeksi kronis di mulut bisa memicu peradangan dalam tubuh. Dalam jangka panjang, peradangan ini diduga berperan dalam berbagai penyakit, termasuk gangguan kognitif.

Itulah mengapa beberapa studi observasional menemukan bahwa orang dengan penyakit periodontal memiliki risiko demensia yang lebih tinggi dibanding mereka yang kesehatan mulutnya terjaga. Perlu diingat, ini menunjukkan hubungan, bukan sebab langsung.

Menjaga kesehatan gigi dan gusi tetap penting, bukan hanya untuk mencegah bau mulut atau gigi berlubang, tapi juga sebagai bagian dari menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Alzheimer tetap merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor. Kebersihan mulut bisa menjadi salah satu bagian dari pencegahan, tetapi bukan solusi tunggal. Karena pada akhirnya, kesehatan otak tidak ditentukan oleh satu kebiasaan saja, melainkan kombinasi dari banyak hal, mulai dari pola hidup, kesehatan tubuh, hingga faktor genetik.

(anm/els)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Mookie Design]

Baca lagi: PAN Soroti Rencana Nama Partai untuk Halte Jakarta, Dorong Netralitas

Baca lagi: Juara di Jerez, Ramadhipa Minta Saran Veda Ega dan Mario Aji

Baca lagi: Review Film: Songko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: