
Jakarta, Mookie Design Indonesia
—
Tren
capsule wardrobe
semakin banyak dilirik
anak muda
yang mulai lelah dengan budaya
fast fashion
dan kebiasaan belanja impulsif. Konsep ini mendorong seseorang memiliki koleksi pakaian lebih sedikit, tetapi tetap mudah dipadupadankan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Populer di media sosial, gaya berpakaian minimalis ini kerap dianggap sebagai solusi agar tetap
fashionable
tanpa harus terus membeli pakaian baru.
Namun, menerapkan
capsule wardrobe
ternyata juga mengubah cara seseorang memandang belanja fesyen dan rutinitas harian mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lia (23), seorang pekerja di perusahaan swasta, mulai mencoba
capsule wardrobe
sekitar setahun lalu setelah merasa isi lemarinya semakin penuh, tetapi tetap bingung memilih pakaian setiap pagi. Ia mengaku dulu cukup sering membeli pakaian karena tergoda tren media sosial dan promo belanja
online
.
Kebiasaan itu perlahan membuatnya sadar banyak pakaian yang akhirnya jarang dipakai. Dari situ, Lia mulai memilah isi lemarinya dan mempertahankan pakaian dengan warna serta model yang mudah dipadukan.
“Dulu aku tipe yang merasa nggak punya baju terus, padahal lemari penuh banget. Apalagi kalau mau keluar aku selalu pengin baju baru,” kata Lia kepada
Mookie DesignIndonesia.com
, Selasa (19/5).
Kini, sebagian besar koleksi pakaian Lia didominasi warna netral seperti hitam, putih, cokelat, abu-abu, dan navy. Menurutnya, jumlah pakaian yang lebih sedikit justru membuat kesehariannya terasa lebih praktis.
“Aku jadi enggak buang waktu lama cuma buat
mikirin outfit
. Hampir semua baju di lemari sekarang bisa dipakai bareng. Jadi misalnya aku beli cardigan, cardigan itu bisa dipadukan sama top yang aku punya dengan warna berbeda,” ujarnya.
Meski begitu, Lia mengaku sempat merasa kurang percaya diri ketika harus menghadiri acara sosial atau bertemu teman-temannya.
“Awalnya takut dikira bajunya itu-itu
aja
. Tapi ternyata orang juga enggak terlalu
notice
. Malah aku jadi sering merasa ternyata aku cocok dengan paduan
outfit
baru yang aku temukan sendiri,” katanya.
Sementara itu, Erik (24), seorang karyawan swasta, mulai menerapkan
capsule wardrobe
karena merasa terlalu sering membeli pakaian yang akhirnya hanya dipakai sekali atau dua kali. Ia mengatakan kebiasaan belanjanya dulu banyak dipengaruhi tren yang cepat berganti di media sosial.
Menurut Erik, memiliki terlalu banyak pilihan pakaian justru membuatnya lebih sulit menentukan
outfit
harian.
“Kadang makin banyak baju malah makin bingung mau pakai apa. Apalagi kalau kerja setiap hari, aku jadi makin susah milih,” kata Erik.
Ia kemudian mulai mengurangi koleksi pakaian dan memilih model yang lebih sederhana serta tahan lama. Kemeja polos, kaus polos, celana bahan warna netral, dan
sneakers
putih menjadi kombinasi yang paling sering dipakainya untuk bekerja maupun
hangout
.
Selain lebih praktis, Erik mengaku pengeluaran untuk fesyen kini jauh lebih terkontrol dibanding sebelumnya.
“Sekarang kalau mau beli baju aku mikir dulu, ini bakal sering kepakai atau enggak. Karena jujur, di kondisi ekonomi sekarang kayaknya kita memang perlu memilah mana yang benar-benar butuh dan mana yang enggak,” ujarnya.
Bagi Erik,
capsule wardrobe
bukan berarti berhenti mengikuti fesyen, melainkan menjadi lebih sadar terhadap kebutuhan pribadi dan kebiasaan konsumsi.
“Intinya bukan enggak boleh beli baju, tapi lebih tahu mana yang benar-benar dipakai,” katanya.
(tis/asr)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Mookie Design]
Baca lagi: BPOM Ungkap 263 Ribu Link Kosmetik Ilegal, Mayoritas Ada di E-Commerce
Baca lagi: FOTO: Ledakan di Gudang Amunisi Pemberontak Myanmar, Puluhan Tewas
Baca lagi: DPR Godok Aturan soal Polisi Terafiliasi Ormas di RUU Polri


