Blok M, Masa Mati Suri hingga Nostalgia yang Hidupkan Denyut Nadi

Jakarta, Mookie Design Indonesia

Hari ini, denyut nadi

Blok M

semakin berdetak cepat. Sebagai jantung wilayah Kebayoran, Jakarta Selatan, Blok M seakan menjadi pusat peradaban bagi kalangan anak muda.

Blok M adalah pusat pertemuan, perbelanjaan, hingga kuliner. Blok M merupakan primadona anak muda Jakarta pada era 1980-an sampai awal 2000-an.

Namun, ada masa-masa ketika kawasan Blok M sepi. Mal Blok M sempat mengalami mati suri, di mana banyak kios tutup dan suasana sepi total, berbeda 180 derajat dengan masa jayanya di era 90-an hingga 2000-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kehadiran Blok M saat ini tak lepas dari perjalanan panjangnya. Ternyata kawasan tersebut pernah menjalani hari-hari yang berlalu sepi, karena kehilangan daya pikat.

Kendati demikian, mungkin waktu tidak bisa benar-benar melunturkan karakter tempat ini. Nostalgia membawa kembali denyut nadi Blok M, pengunjung melangkah kembali ke sana untuk menikmati kembali sudut-sudut jadul.

Awal Pembuatan Blok M Sebagai Hub Kebayoran

Di masa lalu, saat pertama kali ada perencanaan pembangunan kota satelit baru Kebayoran sekitar tahun 1948, kawasan Blok M sudah ditargetkan menjadi Hub dan pusat perbelanjaan.

Lokasi Blok M berada di tengah peta Kebayoran Baru rancangan Moh Soesilo, membuatnya sebagai titik pertemuan dan penghubung kawasan-kawasan lain di sekitarnya. Setelah pembangunan selesai dan Blok M berfungsi optimal, masyarakat setempat mulai menghidupkan tempat ini.

Sejarawan Jakarta Andi Achdian menjelaskan bahwa tonggak pertama kejayaan Blok M terjadi sekitar tahun 1980-an. Saat itu perekonomian Indonesia dikatakan sudah membaik, sehingga memunculkan kelompok kelas menengah dan meningkatkan budaya konsumtif masyarakat.

Kondisi ini membuka peluang besar bagi Blok M yang sedari awal sudah dirancang sebagai tempat perbelanjaan. Di masa-masa itu, masyarakat setempat selalu melancong ke Blok M untuk berbelanja atau sekadar nongkrong, layaknya anak muda yang gaul di ibu kota.

“Blok M yang sejak awal telah dirancang sebagai tempat perbelanjaan menjadi tempat penting budaya nongkrong anak-anak muda saat itu,” kata Andi Achdian kepada

Mookie DesignIndonesia.com

, Rabu (15/4).

Spot Nongkrong Populer

Di puncak kejayaannya saat itu, setiap mata dan kamera menyorot Blok M. Bahkan banyak film yang menangkap pesona Blok M sebagai latar adegan. Blok M benar-benar menjadi Hub di jantung Kebayoran Baru.

Popularitasnya semakin melejit, didorong dengan adanya terminal bus Blok M yang baru dibangun. Terminal tersebut menambah ramai hilir-mudik masyarakat di sana, ditambah lagi pedagang juga semakin menjamur dan memperkuat status Blok M sebagai pusat perbelanjaan.

“Jadi di situ ada kawasan pemukiman, niaga, dan transportasi. Fungsinya sebagai titik hub untuk menghubungkan dengan daerah yang lain,” beber pria yang menjabat sebagai Kaprodi Sosiologi FISIP Universitas Nasional (UNAS).

Pembukaan Blok M Plaza pada tahun 1990 mengukuhkan kawasan ini sebagai destinasi belanja bagi kaum menengah kota Jakarta. Saat itu sepanjang hari Blok M seakan tak pernah tertidur, karena malam harinya gemerlap hiburan malam memeriahkan tempat ini. Tak ayal membuat anak muda memilih spot ini sebagai tempat nongkrong.

“Pusat kawasan tempat anak-anak muda nongkrong saat itu ya Blok M. Sebenarnya tidak hanya anak Punk, tetapi berbagai sub-kultur anak muda muncul,” ungkap dia.

Terdengar ingar-bingar di setiap sudut Blok M, berasal dari bar, kafe, sampai karaoke yang menghidupi kawasan hingga larut malam. Tak ada yang menyangka bahwa popularitas bukanlah situasi konstan bagi Blok M.

Sempat Mati Suri, Blok M Kehilangan Daya Pikat

Gemerlapnya mulai meredup, perlahan-lahan menarik Blok M ke hari-hari yang sunyi. Pada awal tahun 2000-an, banyak mall-mall besar lainnya yang muncul ke permukaan, memasuki arena persaingan sebagai pusat perbelanjaan di Jakarta.

Masa sepi itu mulai terasa signifikan setelah 2014-2017dan semakin parah saat pandemi Covid-19 sekitar tahun2020-2022.

Semakin banyak pilihan baru, Blok M semakin tersingkir pula. Terjadi pergeseran tren dan gaya hidup masyarakat, bagaimanapun ini adalah perkembangan yang akan terus terjadi seiring berjalannya waktu. Masyarakat lebih terpikat dengan mall baru yang menawarkan suasana berbeda, serta atraksi belanja yang lebih beragam.

“Pamor Blok M mulai menyusut dengan berkembangnya Mall2 besar di berbagai tempat di Jakarta. Jadi, Jakarta tidak lagi memiliki satu sentra perniagaan, tetapi lebih banyak melalui kehadiran mall-mall baru seperti Senayan City, Pacific Place, kawasan SCBD, Casablanca dan lainnya,” jelas Andi.

Blok M kehilangan daya pikatnya, orang tak lagi penasaran dengan kawasan bernuansa vintage tersebut. Puncak mati suri Blok M adalah ketika masa pandemi pada tahun 2020, perniagaan di Blok M lumpuh.

Banyak toko-toko gulung tikar, mau tak mau karena tidak ada pengunjung datang yang mengayuh roda perekonomian di Blok M. Kawasan yang dulu ramai dan diminati, berubah menjadi jalan dan gedung yang bahkan tak dilirik.

Era Kebangkitan Blok M, Nostalgia yang Menghidupkan Denyut Nadi

Cukup lama kehilangan pamor ternyata tak membuat Blok M selamanya terpuruk. Pergeseran tren itu terjadi lagi, kali ini masyarakat merindukan sisi unik dan vintage dari kawasan Blok M yang sejak dulu sudah berkarakter.

Nostalgia, itu yang membuat denyut nadi Blok M berdetak lagi. Orang-orang ingin kembali melihat karakter jadul Blok M tapi meminta pengalaman baru. Oleh karena itu, berangsur bangunan lama dialihfungsikan menjadi atraksi baru.

“Perkembangan budaya kuliner dan pemanfaatan nostalgia masa lalu di Jakarta seperti M-Bloc menghidupkan kembali kawasan Blok M yang telah sepi itu,” tutur Andi.

Mulai bermunculan kembali tempat nongkrong estetik di Blok M, kalau sekarang disebutnya kalcer. Masyarakat kembali membawa kehangatan dengan meramaikan area Blok M.

Beberapa spot yang menarik perhatian di awal masa kebangkitan Blok M termasuk Taman Literasi Martha Tiahahu, M Bloc Space, sampai kafe dan restoran dari UMKM lokal yang viral.

Kemudahan akses transportasi juga ikut menyumbang peran dalam mengembalikan kejayaan Blok M. Sejak MRT, Transjakarta, dan Mikrotrans beroperasi penuh, Blok M jadi semakin mudah dijangkau dan banyak yang tertarik untuk berkunjung ke sana.

“Sekarang Blok M lebih dilirik kembali karena kuliner dan jajanan umkm, bukan mall-nya. Akses transportasi MRT dan Transjakarta yang nyaman dan mempermudah kunjungan,” pungkasnya.

Add

as a preferred

source on Google

Momen Kebangkitan Blok M Setelah Sempat Mati Suri

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Pertamina: Kami Koordinasi dengan Pemerintah soal Harga BBM Nonsubsidi

Baca lagi: FOTO: Mirip Punch, Monyet di Meksiko Peluk Boneka Usai Dibuang Ibunya

Baca lagi: Ormas di Makassar Bakal Polisikan Penyebar Video Ceramah JK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: