Bisa Bahaya, Ini yang Sebenarnya Terjadi saat Menyapu Abu Vulkanik

Daftar Isi

1. Abu yang mengendap terangkat kembali menjadi partikel udara

2. Partikel dapat masuk ke saluran pernapasan

3. Menggores atau mengikis permukaan lantai

Cara membersihkan abu vulkanik yang benar

Jakarta, Mookie Design Indonesia

—

Sebaran

abu vulkanik

imbas erupsi

Gunung Anak Krakatau

mencapai sejumlah daerah. Akibatnya, banyak warga yang mengeluhkan lantai

rumahnya

dipenuhi oleh debu abu vulkanik.

Tak ayal, banyak orang pun langsung menyapunya dengan anggapan lantai kembali bersih setelah disapu. Konten-konten serupa bertebaran di media sosial sejak Minggu (6/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, menyapu lantai yang tertutup oleh abu vulkanik tidak disarankan. Mengapa demikian?

Badan Geologi Amerika Serikat (

USGS

) menyebut, menyapu abu vulkanik, terutama dalam kondisi kering, bisa membuat partikel aku kembali beterbangan kembali udara. Akibatnya, risiko menghirup abu vulkanik justru jadi meningkat.

USGS sendiri secara eksplisit mengimbau masyarakat untuk menghindari

dry sweeping

alias menyapu lantai yang tertutup abu vulkanik. Beberapa hal jadi penyebabnya, seperti berikut merangkum berbagai sumber.

1. Abu yang mengendap terangkat kembali menjadi partikel udara

Masih menurut USGS, abu vulkanik terdiri dari partikel halus hasil fragmentasi material vulkanik. Saat sapu digerakkan di atas permukaan atau lantai yang kering, sebagian abu tidak langsung terkumpul, melainkan terhambur dan tersuspensi kembali di udara.

Jadi, secara kasat mata lantai yang disapu kemungkinan terlihat bersih. Namun, belum tentu udara di sekitar aman dari material abu vulkanik.

2. Partikel dapat masuk ke saluran pernapasan

Imbas partikel yang terhambur kembali ke udara, risiko masuk ke saluran pernapasan pun jadi meningkat. Paparan abu vulkanik dapat mengiritasi saluran napas serta mata.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (

CDC

) Amerika Serikat menyebut, partikel abu dapat mengandung kristalin silika. Dalam paparan tertentu, partikel tersebut bisa memicu masalah pada paru-paru. Anak, lanjut usia (lansia), dan orang dengan riwayat masalah pernapasan menjadi kelompok paling rentan.

Dengan demikian, menyapu abu vulkanik yang menutupi teras saja nyatanya tidak langsung menyelesaikan masalah. Yang ada justru menimbulkan risiko kesehatan anyar.

3. Menggores atau mengikis permukaan lantai

USGS menyebut, abu vulkanik bersifat abrasif. Struktur abu yang tajam dan kristalin dapat menggores atau mengikis permukaan saat abu vulkanik disapu.

Cara membersihkan abu vulkanik yang benar

USGS menyarankan untuk meminimalisasi metode sapu kering. Alih-alih demikian, pilih metode yang tidak membuat debu kembali beterbangan, seperti penggunakan kain lembap, pel basah, atau vacuum cleaner yang sesuai.

Sementara untuk lantai yang dilapisi abu cukup tebal, basahi dulu abu sebelum dibersihkan.

Sementara untuk area luar, metode penyapuan bisa digunakan, namun dengan catatan. Jika partikel abu terlihat halus, basahi sedikit permukaan untuk mencegahnya terangkat ke udara dan menimbulkan risiko masalah pernapasan.

(asr)

Baca lagi: Jadwal Bioskop Trans TV 7-13 September 2026

Baca lagi: Ayu Dewi Berjuang Sampai ke Jakarta dari Bangkok Imbas Erupsi Krakatau

Baca lagi: Crazyrich88 Pusat Game Online Paling Terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: