Batukaras, Destinasi ‘Slow Living’ Kaum Urban yang Mendamba Ketenangan

Jakarta, Mookie Design Indonesia

Batukaras

boleh jadi tak setenar

Pantai Pangandaran

di Jawa Barat. Tapi, desa nelayan di pesisir selatan Jawa Barat itu bikin orang-orang kota yang mendambakan ‘

slow living

‘ kepincut.

Tak seperti tempat wisata lainnya yang mendadak sepi saat momen liburan usai, Batukaras masih menyisakan beberapa pelancong yang memilih tinggal lebih lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pantai Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran memang jadi salah satu tujuan ‘short escape’ warga kota yang ingin menjauh dari hiruk pikuk. Berbeda dengan Pantai Pangandaran yang cenderung ramai, Batukaras menawarkan ketenangan yang tidak diberikan kebanyakan destinasi wisata.

Tak sedikit warga yang memilih untuk menetap di sana. Dalam suasana pasca-Lebaran, kehadiran pelancong kota yang baru saja tiba menjadi bukti bahwa Batukaras juga jadi tempat yang nyaman bagi pekerja nomad atau mereka yang bekerja dari jarak jauh (remote).

“Mereka [pelancong yang datang] biasanya bekerja sebagai

freelance

, menetap di sini satu minggu atau sebulan, lalu pulang lagi,” ujar salah seorang warga setempat, Yusuf, melansir

detikJabar

, Jumat (3/4).

Menurutnya, banyak pelancong yang justru memilih datang ke Batukaras saat musim liburan usai. Tak cuma menikmati pemandangan alam, pelancong juga biasanya berbaur dengan warga setempat. Hal yang sama juga biasanya dilakukan oleh pelancong mancanegara.

“Mereka ke sini pasti cari villa kayu yang bisa disewa bulanan, lalu menetap, tinggal di sini, surfing sampai mengenal secara mendalam kondisi

culture

di sini,” ujar Yusuf.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran, Dadan Sugistha mengatakan, Pantai Batukaras telah lama menjadi titik kumpul bagi banyak wisatawan asing.

“Mungkin karena wisatawan hariannya lebih stabil, tidak semembludak Pantai Pangandaran. Jadinya mereka lebih betah,” ujar Dadan.

[Gambas:Instagram]

Belakangan, kawasan Pantai Batukaras menjadi bahan perbincangan usai dihina oleh seorang

influencer

di media sosial. Batukaras disebut ‘kampung’ dan ‘tertinggal’. Batukaras juga dibandingkan dengan destinasi-destinasi ternama di Indonesia lainnya.

Hinaan itu pun sontak memicu reaksi netizen dan warga lokal Batukaras. Sebagian besar netizen mengatakan, Batukaras memang punya pasarnya sendiri, yang berbeda dengan destinasi-destinasi populer yang umumnya ramai dan tertata dengan baik.

Sejumlah warga lokal pegiat komunitas Batukaras pun ikut berbicara. Salah satunya adalah Laura Herwati yang menyebut bahwa Batukaras memiliki identitas kuat sebagai desa nelayan yang sederhana.

Batukaras is not for everyone

. Kalau ekspektasinya adalah destinasi mewah dan serba urban, mungkin tidak akan cocok. Tapi, bagi yang mencari ketenangan dan ingin

slowing down

, aku yakin kamu akan jatuh cinta pada Batukaras,” ujar Laura.

Batukaras memang tak bisa memanjakan pelancong dengan kemewahan dan keramaian. Tak semua orang juga bisa cocok dengan Batukaras, lantaran setiap pelancong memiliki preferensi dan seleranya masing-masing.

Tapi, setidaknya jika kamu ingin sedikit kabur dari hiruk-pikuk kota, maka Batukaras bisa jadi pilihan yang tepat.

(asr)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video Mookie Design]

Baca lagi: Mark Keluar dari NCT, Tulis Pesan Emosional buat Penggemar

Baca lagi: Penghormatan Terakhir untuk 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Baca lagi: Trans Hotel Jakarta Hadirkan Tiga Pengalaman Kuliner dalam Satu Lokasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: