
Daftar Isi
Kenapa anak suka menggigit kuku?
Jangan langsung dimarahi
Potong kuku secara rutin
Jakarta, Mookie Design Indonesia
—
Melihat
anak
menggigit
kuku
mungkin terasa seperti kebiasaan kecil yang mudah dihentikan. Tinggal diingatkan atau diminta berhenti.
Akan tetapi, semakin sering dilakukan, kebiasaan ini justru bisa menjadi sesuatu yang dilakukan anak tanpa sadar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kadang anak baru menyadari kebiasaan tersebut setelah diingatkan orang tua. Jika terus berulang, menggigit kuku juga bisa membuat kuku dan kulit di sekitarnya mengalami masalah.
Karena itu, orang tua perlu memahami kebiasaan ini sebelum mencoba menghentikannya.
Kenapa anak suka menggigit kuku?
Melansir
American Academy of Pediatrics
(AAP), menggigit kuku dapat menjadi salah satu cara anak merespons berbagai kondisi emosional, seperti stres, kecemasan, ketegangan, kebosanan, kesepian, atau frustrasi.
Misalnya, anak lebih sering menggigit kuku ketika sedang mengerjakan tugas yang sulit, menunggu sesuatu, atau menghadapi situasi baru. Ada pula anak yang melakukannya saat sedang menonton televisi atau bermain tanpa benar-benar menyadarinya.
Karena itu, menggigit kuku tidak otomatis berarti anak mengalami gangguan kecemasan atau masalah psikologis tertentu. Kebiasaan ini juga termasuk
body-focused repetitive behavior
(BFRB), yaitu perilaku berulang yang sering dilakukan secara otomatis dan sulit disadari.
Studi dalam
International Journal of Women’s Dermatology
menyebut, kebiasaan seperti menggigit kuku dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi psikologis dan faktor genetik.
Jangan langsung dimarahi
Ketika melihat anak kembali menggigit kuku, respons pertama orang tua mungkin ingin langsung berkata, “Jangan gigit kuku!”
Sesekali mengingatkan tentu boleh. Tetapi terus-menerus memarahi atau mempermalukan anak bukan cara yang paling membantu.
Alih-alih hanya meminta anak berhenti, orang tua bisa mencoba mencari tahu apa yang terjadi sebelum kebiasaan itu muncul. Dengan begitu, anak perlahan belajar mengenali kebiasaannya sendiri, termasuk situasi yang biasanya membuatnya ingin menggigit kuku.
Orang tua disarankan untuk memperhatikan pemicu seperti kebosanan, stres, kecemasan, atau kondisi kuku yang kasar dan memiliki hangnail. Setelah mengetahui pemicunya, orang tua bisa membantu anak mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas lain.
Misalnya ketika tangan anak mulai mendekati mulut, berikan kegiatan yang membuat tangannya sibuk seperti meremas stress ball, menggambar, memainkan benda kecil yang aman, atau sekadar menggenggam kedua tangan.
Potong kuku secara rutin
Cara sederhana lain adalah menjaga kuku anak tetap pendek. Kuku yang pendek membuat lebih sedikit bagian kuku yang bisa digigit. Orang tua juga bisa memastikan kuku tidak memiliki bagian yang kasar atau hangnail agar anak tidak terdorong menggigit atau mengorek bagian tersebut.
Menggigit kuku sesekali belum tentu menjadi masalah. Akan tetapi, kebiasaan ini perlu mendapat perhatian lebih jika sudah menyebabkan kulit sekitar kuku terluka atau berdarah, bengkak, infeksi, atau kerusakan pada kuku.
Orang tua juga sebaiknya berkonsultasi jika anak sudah berusaha berhenti tetapi tidak mampu, atau kebiasaan tersebut muncul bersamaan dengan kecemasan dan stres yang cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada kondisi seperti itu, dokter anak atau tenaga kesehatan mental dapat membantu mencari tahu pemicu dan menentukan pendekatan yang sesuai.
(anm/asr)
Baca lagi: Mengenal Senjata Asal Indonesia Dipakai Agnez Mo di Reacher 4
Baca lagi: TAUD Kritik Putusan Banding Prajurit Penyiram Keras ke Andrie Yunus
Baca lagi: Serial Malaysia ini Bikin Publik Murka hingga Kena Take Down



