
Daftar Isi
1. Si tukang jualan produk keuangan
2. Si tukang ejek
3. Si tukang pinjam
4. Si pemberi tekanan sosial
5. Si kompetitor
6. Si parasit
7. Si enabler
Jakarta, Mookie Design Indonesia
—
Lingkar
pertemanan
punya pengaruh besar terhadap banyak aspek hidup, termasuk cara kamu mengelola
uang
. Tanpa disadari, sifat dan kepribadian teman tertentu bisa mendorongmu belanja berlebihan atau ikut-ikutan gaya hidup mahal.
Jadi, penting untuk mengenali tipe teman yang diam-diam bisa membuat keuanganmu boncos. Bukan berarti kamu harus langsung kabur, tetapi kamu perlu tahu cara menjaga batasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau kamu merasa uangmu sering habis bukan karena kebutuhan, mungkin saatnya mengecek siapa saja yang punya ‘aura’ boros di lingkar pertemananmu. Ini dia beberapa tipe teman yang perlu diwaspadai
1. Si tukang jualan produk keuangan
Ada teman yang terlalu aktif menawarkan produk keuangan, lalu berharap kamu ikut membeli. Mereka mungkin menawarkan asuransi, investasi, atau produk lain dengan iming-iming keuntungan besar.
Masalahnya, keputusan membeli bisa jadi bukan karena kebutuhanmu, melainkan karena sungkan. Kalau tak mau membeli, sebaiknya jangan.
“Tetaplah berpegang pada profesional yang berkualitas dan bersertifikasi untuk nasihat keuangan Anda, atau Anda akan berakhir dengan kekacauan keuangan dan kehilangan satu teman!” ujar perencana keuangan Benjamin Brandt, dilansir
Forbes
.
2. Si tukang ejek
Ada saja tipe teman yang suka merendahkan pilihan finansialmu. Misalnya, saat kamu menolak nongkrong mahal karena sedang hemat, mereka justru mengejekmu. Sikap seperti ini bisa membuatmu merasa malu menjalani hidup on budget.
Tips menghadapinya dari
Money Crasher
, ingatkan teman tipe ini secara halus kalau mengejekmu tidak membuatmu merasa buruk. Katakan saja kamu bukannya pelit, tetapi ingin mencapai stabilitas finansial.
3. Si tukang pinjam
Teman yang suka meminjam uang bisa sangat berisiko jika tidak punya niat jelas untuk melunasi. Ada teman yang memang sedang kesulitan, tetapi ada juga yang sebenarnya hanya ingin lolos dari tanggung jawab.
Apa pun alasannya, jangan kasih celah pada teman yang suka pinjam uang tetapi menghilang ketika ditagih. Apalagi kalau sampai meminta identitasmu untuk mengajukan pinjaman online.
4. Si pemberi tekanan sosial
Teman seperti ini sering memaksamu ikut acara mahal dengan alasan, “Semua orang juga ikut, lho.” Mereka bisa membuatmu merasa bersalah ketika menolak. Padahal, tidak semua ajakan harus disetujui. Kamu bisa tetap bersosialisasi tanpa harus mengorbankan kondisi dompet.
Misalnya, menawarkan nongkrong di kafe setelah dia pergi ke Bali untuk mendengarkan cerita liburannya, ketimbang FOMO ikutan ke destinasi wisata tersebut.
5. Si kompetitor
Ada pula tipe teman yang setiap kali kamu punya kabar baik, misalnya baru upgrade ponsel, dia bakal membalasnya dengan ponsel yang lebih bagus.
Teman yang punya kepribadian ini bisa membuatmu terdorong untuk terus berkompetisi. Akibatnya, kamu bisa tergoda mengeluarkan uang demi terlihat setara atau lebih unggul.
Cara terbaik menghadapi teman seperti ini, yakni tidak ikut perlombaan gengsi. Jika ia melihatmu tak terjebak ikut dalam kompetisi, ia akan bosan dan mencari orang lain untuk jadi target barunya.
6. Si parasit
Kalau ada temanmu yang suka minta ditraktir, entah itu buat makan bareng, transportasi, sampai belanja, pertimbangkan untuk kabur.
Apalagi kalau kamu sudah sering mengingatkan soal patungan tetapi mereka tetap menghindar, itu tanda hubungan yang tidak sehat. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa membuat keuangan boncos tanpa kamu sadari.
7. Si enabler
Teman yang satu ini biasanya sering bilang, “Beli aja, kamu kan sudah kerja keras.” Sekilas terdengar suportif, tetapi jika dilakukan terus-menerus, dorongan itu bisa merusak anggaranmu.
Mereka mungkin tidak bermaksud buruk, tetapi tetap berisiko bagi kondisi finansialmu. Kalau mereka terus mendorong pembelian yang tidak perlu, kamu perlu tegas membuat batasan.
Tak semua pertemanan aman untuk dompet. Beberapa tipe teman memiliki kepribadian yang tanpa disadari mendorongmu keluar dari jalur keuangan sehat. Tak harus langsung menjauh, tetapi kamu harus tegas membuat batasan.
(rti)
Baca lagi: 5 Sayuran Ini Ternyata Mengandung Nikotin
Baca lagi: Internet RI Masih di Papan Bawah, XLSmart Bidik 3 Besar Asia
Baca lagi: Respons Andre Taulany soal Rencana Menikah dengan Amanda Rigby




7 Responses
Terima kasih atas artikelnya yang sangat berbobot! Saya penasaran, bagaimana cara mengatasi tantangan utama saat melakukan transisi awal seperti yang disebutkan di poin kedua? https://indojoker88penjaga.com
Artikel ini benar-benar mengubah cara saya memandang permasalahan ini. Dulu saya pikir kendala utamanya ada di eksekusi teknis, tapi penjelasan di sini membuktikan bahwa mindset dan perencanaan awal jauh lebih menentukan. https://milenium88osborn.com
Banyak poin ‘aha moment’ saat membaca artikel ini. Khususnya bagian yang membahas pola pikir jangka panjang vs jangka pendek, itu benar-benar menyentil realita di lapangan. https://untung88schuberth.xyz
Solusi yang ditawarkan sangat membumi dan fleksibel untuk disesuaikan dengan kapasitas skala kecil maupun besar. https://nona88razor.xyz
Artikel ini berani menyentuh aspek yang sering kali dianggap tabu atau diabaikan oleh banyak orang. Keberanian penulis membedah realita ini patut diacungi jempol. https://genting138a.help
Pendekatan solutif yang sangat praktis. Mengurai benang kusut masalah tanpa harus membuat struktur kerja baru yang makin rumit. httpa://untung365a.help
Penjelasan langkah demi langkahnya sangat praktis dan mudah dipahami. Bagi rekan-rekan yang membutuhkan akses tautan resmi secara cepat tanpa hambatan, silakan meluncur ke https://africajuris.com sekarang juga.