
Daftar Isi
1. ‘Pulang sebelum Magrib’ dianggap sebagai kebebasan
2. Komentar soal tubuh dianggap hal biasa
3. Perundungan dianggap menguatkan mental anak
4. Emosi harus dikendalikan, bukan dibicarakan
5. Mengabaikan parental guide
Jakarta, Mookie Design Indonesia
—
Era 1990-an sering dianggap masa yang seru, bebas, dan penuh
nostalgia
. Banyak orang tua gen X dan Milenial mengenangnya sebagai zaman yang serba apa adanya karena belum ada ponsel pintar dan media sosial.
Oleh karena itu, tak sedikit yang ingin memperkenalkan nuansa masa kecil mereka kepada
gen Alpha
. Namun, Namun tak semua ‘hikmah’ dari era tersebut bisa dipetik dan layak diwariskan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada beberapa pola pikir dan kebiasaan lama yang justru sebaiknya ditinggalkan agar gen Alpha tumbuh dengan lebih sehat, aman, dan memiliki emosi lebih stabil. Apa saja itu?
1. ‘Pulang sebelum Magrib’ dianggap sebagai kebebasan
Banyak orang rindu masa kecil saat bermain bebas bersama teman lalu pulang hanya ketika matahari mulai terbenam atau sudah waktunya salat Magrib. Gambaran ini memang terdengar menyenangkan, seolah anak-anak di era 90-an lebih mandiri dan kreatif.
Namun kenyataannya, menurut laman
Parents
, tidak semua anak punya lingkungan yang aman untuk dibiarkan berkeliaran di luar rumah. Ini sama saja dengan bentuk pengabaian dan kurangnya pengawasan.
Untuk gen Alpha, kebebasan tetap penting, tetapi harus dibarengi rasa aman, batasan, dan pendampingan yang jelas.
2. Komentar soal tubuh dianggap hal biasa
Di tahun 90-an, komentar tentang bentuk tubuh, berat badan, atau penampilan sering dianggap wajar. Bahkan orang dewasa seperti keluarga atau guru kerap memberi komentar yang terdengar ‘sepele’ itu.
Padahal, komentar seperti itu bisa menempel lama di pikiran anak dan memengaruhi rasa percaya diri mereka. Saat ini, anak-anak jauh lebih terpapar dengan perbandingan lewat media sosial. Jadi, menambah tekanan lewat komentar tubuh justru memperburuk situasi.
3. Perundungan dianggap menguatkan mental anak
Dulu, anak yang dirundung sering diminta untuk “tahan saja,” “lawan saja,” atau “jangan manja.” Seolah-olah perundungan adalah proses normal yang harus dilewati semua orang.
Sayangnya, pandangan ini sangat berbahaya. Kini kita tahu perundungan bisa meninggalkan luka psikologis yang panjang, bahkan terbawa hingga dewasa. Apalagi di era digital, perundungan bisa makin intens di ruang maya.
4. Emosi harus dikendalikan, bukan dibicarakan
Banyak anak 90-an tumbuh dengan pesan mereka harus kuat, tidak boleh terlalu sedih, dan jangan banyak bicara soal perasaan. Akibatnya, emosi sering dipendam dan baru disadari dampaknya saat sudah dewasa.
Sekarang, pembicaraan soal kesehatan mental sudah jauh lebih terbuka. Anak-anak perlu tahu kalau menangis, bercerita, dan meminta bantuan bukan tanda lemah. Justru itulah cara sehat untuk mengelola emosi.
Kepada gen Alpha, orang tua perlu mengajarkan keterampilan mengenali dan mengungkapkan perasaan sejak dini agar mereka tumbuh lebih stabil secara mental.
5. Mengabaikan parental guide
Menurut
Romper
, di tahun 90-an banyak orang tua tidak terlalu memperhatikan peringatan atau parental guide pada film, lagu, dan berbagai jenis budaya pop lainnya.
Anak-anak bisa menonton film dewasa atau ikut menyanyikan lagu dengan lirik yang sebenarnya tidak sesuai usia, misalnya berkonotasi seksual. Saat itu, akses informasi memang belum semudah sekarang.
Kini keadaannya berbeda. Kita bisa mengecek lirik lagu secara daring tanpa harus menunggunya muncul di majalah atau tabloid mingguan.
Ada banyak pula aplikasi parental control, bahkan sejumlah platform besar sudah menyediakan opsi tersebut. Jadi, konsumsi anak terhadap budaya pop bisa lebih dipantau.
Jadi, tidak semua yang datang dari masa lalu harus diteruskan. Ada bagian dari era 1990-an yang indah untuk dikenang, tetapi ada juga yang sebaiknya berhenti menjadi pola parenting Anda.
Saat membesarkan gen alpha, orang tua perlu memilih mana yang masih relevan dan mana yang justru berisiko. Dengan begitu, warisan dari generasi pendahulu bukan kebiasaan buruknya, melainkan pelajaran untuk menjadi lebih bijak.
(rti)
Baca lagi: Apa Pakai 2 Masker Lebih Efektif Lindungi dari Abu Vulkanik?
Baca lagi: Apa Pakai 2 Masker Lebih Efektif Lindungi dari Abu Vulkanik?
Baca lagi: FOTO: Daging Berwajah Messi, Persembahan Unik dari Restoran




5 Responses
Penjelasan mengenai strategi di paragraf keempat sangat menarik. Namun, apakah pendekatan ini juga efektif jika diterapkan pada skala operasional yang lebih kecil? Mohon pencerahannya dari penulis. https://tirto88summer.com
Banyak poin ‘aha moment’ saat membaca artikel ini. Khususnya bagian yang membahas pola pikir jangka panjang vs jangka pendek, itu benar-benar menyentil realita di lapangan. https://untung88schuberth.xyz
Sebuah pengingat yang sangat bagus untuk kita semua agar tidak cepat puas dengan pola kerja lama yang belum tentu efektif.https://untung88corsair.xyz
Artikel ini berani menyentuh aspek yang sering kali dianggap tabu atau diabaikan oleh banyak orang. Keberanian penulis membedah realita ini patut diacungi jempol. https://genting138a.help
Suka sekali dengan penekanan pada aspek psychological safety. Ketika orang merasa aman untuk berbuat salah dan belajar, inovasi baru benar-benar bisa tumbuh. https://untung88maniac.xyz